October 2, 2022

Rembang TV

TV nya Orang Rembang

Wayang Perlawanan

Ciri Khas Gagrak Laseman

Perbedaan wayang Gagrak Laseman dengan gaya Surakarta dan Yogyakarta dan lain Cirebonan, itu terletak pada boneka wayang. Kalau wayang Gagrak Laseman itu pasti menggunakan wayang golek. Adegan pertama itu menggunakan wayang golek. Setelah adegan berikutnya, baru transisi ke wayang kulit.

Bentuk Wayang

Sedangkan bentuk wayang kulitnya sendiripun berbeda dengan gaya Surakarta. Misalnya, ada tokoh Raja Hastina Prabu Duryodono atau Duryadana ini Gaya Laseman wajahnya merah, ukurannya kecil dengan bentuk tatanannya yang sangat sederhana, prasojo, tidak rumit tatanya. Berbeda dengan gaya Surakarta, sama-sama tokoh Prabu Duryudana, ukuran bonekanya lebih besar gaya Surakarta ini. Kemudian dari segi tatanya lebih lembut gaya Surakarta. Dan pewarnaan atau pulasannya lebih rumit gaya Surakartanya. Gaya Pesisiran Laseman ini pemulasan warnanya prasojo, karena sesuai dengan karakter wong pesisir. Nek yo elek, ora yo ora. Nek abang yo abang, biru ya biru, kuning ya kuning. ini dari segi bentuk pulasan tatan dan ukuran wayang sudah berbeda sama sama tokoh Prabu Duryadana ini gaya Surakarta, ini gaya Pesisiran Laseman.

Iringan Musik Wayang

Untuk iringan wayang kulit Gagrak Pesisir Laseman itu menggunakan laras slendro, tidak menggunakan nada pelok. Mengapa disebut Laseman yang unik disini, ketika transisi dari wayang golek menuju wayang kulit, itu iringane musiknya adalah ayak-ayak nem untuk Ayak-ayak Lasem. Ayak-ayak Lasem ketika sampai notasi gong lima berubah menjadi srepet lasem. Jadi Ayak Lasem menjadi Srepet Lasem itupun menjadi ciri khas wayang kulit gakrak pesisiran.

Alur Cerita Gagrak Pesisir Laseman

Ceritanya sama dengan gaya Yogyakarta dan Surakarta bersumber dari Mahabarata dan Ramayana. Sama mencritakan pandawa kurawa, mencritakan Rahwana dan Rahmawijaya sama critanaya.

Wayang Perlawanan

Wayang kulit pesisiran bisa punah menurut guru saya almarhum Ki Pangkat Joyowarsito dalang dari Karangturi Lasem itu ada hubungannya dengan politik saat Belanda menjajah di Indonesia. Saat itu Belanda memang pro dengan gaya Surakarta, dan gaya pesisiran tersisihkan. Dan saat itu Belanda bisa menengarahi itu lawan Belanda atau bukan. (dahulu) Gaya Surakarta itu pasti pro Belanda, kebanyakan lo ya, kebanyakan. Tetapi kalau gaya pesisiran itu, dalang itu dianggap melawan Belanda itu menurut guru saya. Sehingga Belanda menciptakan image bahwa wayang yang bagus itu juga gaya Surakarta. Pak Pangkat bilang kalau ingin tanggapannya mahal itu gaya Surakarta, tapi kalau masih menggunakan gaya Pesisiran Laseman, dianggap dalang ndeso karena ini wayang ala pedesaan.

Sumber: Transkrip video Wayang Pesisiran Lasem – Reportase budaya SMA Negeri 3 Rembang