October 27, 2021

Rembang TV

TV nya Orang Rembang

Jalur Rempah Lasem-Semarang: Sebuah Perjalanan Awal Ekspedisi Rempah Di Kawasan Pantai Utara Jawa

OLEH ACHMAD SHOLEH SARIFFUDIN*

rembangtv.com- Semarang merupakan salah satu tujuan jalur rempah dalam progam Muhibah Jalur Rempah 2021 yang tertuang dalam rekrutmen peserta Jalur Rempah KEMENDIKBUD. Mulai abad ke-18 Semarang dikelola VOC yang memperdagangkan rempah yang merupakan perpindahan dari pelabuhan Jepara (KEMENDIKBUD, 2021). Berdasarkan penelusuran dokumen sejarah, keberadaan jalur rempah juga ditemukan di kawasan Lasem. Bahkan Lasem memiliki usia lebih tua dalam aktifitas perdagangan rempah dibandingkan Semarang. Dengan demikian temuan terhadap jalur rempah Lasem semakin memperkuat bahwa aktifitas perdagangan rempah telah terjadi pada Pantai Utara Jawa termasuk Semarang.

Menurut Singgih (2016:19) kawasan Pantura Jawa memegang peranan penting dalam jalur perdagangan rempah dunia. Berdasarkan Mulyadi (2016:10) komoditi rempah yang diperdagangkan diantaranya Lada, Cengkeh, Pala, dan Merica. Dan ritme jalur rempah Pantura Jawa ini menurut Pires (2016:242) semakin ramai karena kawasan pantura menjadi penghasil bahan pangan seperti garam, beras, produk ikan olahan, terasi, dan beberapa produk kain tradisional untuk diperdagangkan di pelabuhan Sunda Kelapa. Menurut pires (2016:237) komoditi unggulan yang diperdagangkan di jalur pantai utara salah satunya adalah garam, dan menurut Unjiya (2014:62) dan Utomo (2017:146) lokasi komoditi garam diproduksi di kawasan Lasem yang tercantum dalam Prasasti Karang Bogem dan Biluluk, dengan demikian maka dimungkinkan Lasem disatu sisi menjadi tujuan jalur rempah, disisi lain juga menjadi tempat pemasok garam dan ikan.
Setidaknya terdapat lima bukti, Lasem bagian dari jalur rempah yaitu keberadaan Kampung Bugis pada tahun 1866 di Dasun, Lasem, keberadaan Situs Perahu Kuno Punjulharjo, Rembang, pada abad 7 Masehi, dan keberadaan Manusia Austronesia pada Abad ke-10-5 SM di Leran, Rembang, Keberadaan Pelabuhan Regol (Binangun-Lasem) pada masa Kerajaan Lasem di bawah Kerajaan Majapahit dan Keberadaan Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Soditan Lasem.

Menurut Lapian (2009:64-65) Jalur Rempah Pantura Jawa berasal dari rute Sulawesi tepatnya rempah-rempah dari orang yang berlayar dari Bugis (Sulawesi)(1). Adapun titik cabang layar orang-orang Bugis itu teridenfikasi di beberapa lokasi dalam memperdagangkan rempah-rempah, titik tujuan dagang tersebut adalah di daerah Banten, Jepara, Semarang, Tuban, Gresik dan Lasem pada masa Kerajaan Singasari, Majapahit dan Demak. Setelah abad ke 17 M, Pelabuhan-pelabuhan di Pantai Utara Jawa mulai menurun sehingga hal ini menjadi titik balik pelabuhan Makasar untuk bisa eksis, sehingga orang-orang Bugis dapat mengembara berdagang di sepanjang Pantai Utara Jawa (Setyonugroho, 2020:63). Berdasarkan data yang ditemukan oleh Setyonugroho orang-orang Bugis berlayar dari sulawesi, singgah di Lasem sejak tahun 1866. Setyonugroho juga berhasil mengidentifikasi bahwa pelayar bugis telah menetap bertahun-tahun membentuk kampung Bugis, tepatnya di bibir Sungai Dasun atau tepatnya di Altar Tambak Desa Dasun. Setyonugroho juga suka menyampaikan terjadi interaksi dagang antara orang-orang bugis dengan masyarakat sekitar dengan memperdagangkan rempah-rempah hingga Belanda mendirikan pabrik galangan kapal (2020:65).

Kedua adalah dengan ditemukannya Situs perahu kuno Punjulharjo secara administratif terletak di sebelah utara bagian timur Provinsi Jawa Tengah (Balar, 2019:05). Yang terindentifikasi Prahu Kuno Punjulharjo berasal dari abad ke-7 masehi (Sadzali, 2018:53). Dengan ditemukannya Situs Kapal Kuno Punjulharjo telah menjadi bukti otentik baha pada masa itu telah terjadi aktivitas pelayaran yang dimungkinkan didalamnya adalah terdapat rempah-rempah.

Ketiga adalah keberadaan situs Manusia Aoustronesia di Leran Sluke, disebelah timur Lasem pada abad ke-10-5 SM (Kasnowihardjo, 2013:06; Kasnowihardjo, 2013:169). Dengan ditemukannya situs kerangka manusia austronesia telah menjadi bukti outentik bahwa telah terjadi proses mobilitas manusia asia. Hal tersebut juga diperkuat dengan studi yang dilakukan Noerwidi ( 2017:103) menegaskan bahwa populasi Leran memiliki diversitas afinitas biologis yang cukup beragam berhubungan dengan posisi strategis situs tersebut dalam jaringan perdagangan maritim global masa lampau. Bedasarkan data diatas maka Lasem termasuk jalur Rempah Pantai Jawa.

Keempat adalah keberadaan Pelabuhan Regol di Pantai Binangun Lasem sebagai pelabuhan dagang di bawah Kerajaan Lasem yang dipimpin oleh Dewi Indu pada masa Kerajaan Lasem sebagai kerajaan bagian dari Majapahit. Pelabuhan ini disebutkan dalam Babad Lasem Carita Sejarah Lasem karya R.P. Khamzah pada 1858 M. Keberadaan pelabuhan ini menjadi salah satu titik temu jalur rempah yang saling merajut pada abad ke-14 M di Lasem bahkan sampai sekarang (Pelabuhan Binangun). Kelima adalah keberadaan Klenteng Cu An Kiong yang dibangun sekitar abad ke-15 M (2). Hal ini berkaitan dengan keberadaan komunitas Tionghoa di Lasem yang sudah berada di Lasem sejak ratusan tahun yang lampau. Bahkan menurut Khamzah (1858), Laksama Ceng Ho mendarat di Lasem dengan mengizinkan pengikutnya yang bernama Bi Nang Un dan Nalini untuk tinggal di Lasem sebagai bukti Lasem ikut merajut jalur rempah nusantara.

Namun, selama ini Lasem hanya dikenal dengan Jalur Candunya saja. Adapun Jalur Rempah belum banyak dikenal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa tulisan media National Geographic Indonesia, Lasem disebut sebagai Corong Candu di Tepian Jawa(3) dan program wisata sejarah yang popular menjadi tempat destinasi para pelancong wisataan dari luar(4). Terkesan jalur candu ini lebih popular dibandingkan jalur rempah, padahal menurut Rush (2012:11) keberadaan Jalur Candu hanya terjadi pada rentan waktu yang pendek setidaknya hanya berlangsung sampai abad ke-19 (5). dibanding dengan keberlangsungan jalur rempah. Terlebih dampak dari keberadaan jalur candu itu putus tanpa ada tindak lanjut keberlangsungan dengan tidak adanya praktik percanduan setelah kemerdekaan, sedangkan keberadaan jalur rempah di Lasem ini memiliki dampak keberlangsungan dari dulu sampai sekarang. Hal ini dapat dilihat masih dipergunakannya rempah-rempah untuk menghasikan aneka kuliner khas Lasem yaitu Bandeng Mrico, Ndas Manyung, Ingkung, Sayur Gori, Urap Latoh, Fuyunghay, Bothok, dll. Dengan demikian maka, Lasem memiliki potensi pengelolaan dan pengembangan jalur rempah.

Rempah merupakan unsur penting dalam kemajuan kebudayaan. Dalam hal pengelelolaan dan mengembangan kemajuan kebudayaan yang di dalamnya terdapat rempah. Menurut Undang-Undang nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dalam metode strategi pemajuan kebudayaan terdapat 4 langkah yaitu temu Perlindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan. Adapun Menuut Siry (2020:21) model pengembangan Jalur Rempah dibangun dari prospektif yang mapan, yang didalamnya memuat lima poin yaitu Jalur Rempah adalah strategi diplomasi budaya maritim, Gambaran geostrategis nusantara sebagai jalur perdagangan jarak jauh sejak dahulu, Pusat interaksi budaya bahari yang menempatkan wilayah perairan (laut, teluk, dan jejaring sungai) sebagai media yang menghubungkan bangsa dan masyarakat, Merevitalisasi atau menciptakan nilai-nilai budaya positif di pesisir untuk keberlangsungan ekosistem, Identitas kemaritiman nusantara.

Pengelolaan dan pengembangan jalur rempah Lasem secara teknis dapat dilakukan dengan pemberdayaan jalur rempah. Adapun model pemberdayaan jalur rempah dapat dilakukan secara partisipatif berbasis komunitas, sosial, dan budaya. Menurut Siry (2020: 25) Secara teknis program pemberdayaan jalur repah dapat diwujutkan dalam bentuk 4 program yaitu PRPEP, Gita Laut, Dewi Bahari, dan BMKT (Barang Muatan Kapal Tenggelam). Program Pusat Restorasi dan Pengembangan Ekosistem Pesisir (PRPEP) diperuntukkan fokus pada Pembangunan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Ekosistem Pesisir yang dikelola oleh masyarakat. Program Gita Laut difokuskan untuk gerakan cinta laut untuk pengurangan sampah laut dan meningkatkan kesadaran cinta laut. Program Dewi Bahari difokuskan untuk pengembangan wisata bahari berbasis masyarakat dengan target perbaikan ekosistem, ekonomi dan perilaku. Terakhir program BMKT (Barang Muatan Kapal Tenggelam) yang difokuskan pada pemanfaatan lokasi BMKT oleh masyarakat untuk wisata, edukasi sejarah maritim, dan kawasan konservasi maritim untuk lokasi BMKT/ kapal yang bersejarah. Dari keempat program tersebut, dapat diimplementasikan dalam pengelolaan dan pengembangan jalur rempah di Lasem yang dapat diwujudkan dengan event Ekspedisi Jalur Rempah Lasem dan Festival Kuliner Rempah Lasem.

Ekspedisi Jalur Rempah Lasem dan Festival Kuliner Rempah Lasem melaui dua event ini Jalur Rempah Lasem memiliki dampak sosial yang cukup luas. Karena dua event tersebut melibatkan langsung masyarakat Lasem dan produk kuliner Lasem. Dengan demikian program pemberdayaan Jalur Rempah Lasem berdampak pada kesejahteraan sosial masyakatnya.[]

*) Penulis adalah warga Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, Aktif dalam komunitas Dasun heritage Society dan Rembang TV

Catatan Kaki

  1.  Lihat Orang Laut Bajak Laut Raja Laut: Sejarah Kawasan Sulawesi Abad XIX Karya Adrian B. Lapian tahun 2009.
  2. Lihat Pratiwo Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. 2010. Yogyakarta: Ombak.
  3. Lihat https://nationalgeographic.grid.id/read/13278702/corong-candu-di-tepian-jawa?page=all
  4. Penulis kerap kali melihat tour guide mengantarkan tamunya ke Rumah Candu Lawang Ombo
  5. Lihat James R. Rush Candu Tempo Doeloe tahun 2012, Komunitas Bambu.

DAFTAR RUJUKAN

  • Balai Arkeologi Yogyakarta. 2009. Peneltian Perahu Kuno Punjulharjo: Dalam Laporan Penelitian Arkeologi. Yogyakarta.
  • Kasnowihardjo, G., Suriyanto, R. A., Koesbardiati, T., & Murti, D. B. MODIFIKASI GIGI MANUSIA BINANGUN DAN LERAN:“Temuan Baru di kawasan Pantai Utara Kabupaten Rembang, Jawa Tengah” HUMAN TEETH MODIFICATION IN BINANGUN AND LERAN:“New findings in the Northern Coast of Rembang District. Berkala Arkeologi Vol.33 Edisi No. 02/Mei 2013
  • Kasnowihardjo, H. G. TEMUAN RANGKA MANUSIA AUSTRONESIA DI PANTURA JAWA TENGAH:“Sebuah kajian awal” AUSTRONESIANS SKELETONS FOUND IN THE NORTH COAST OF CENTRAL JAVA:“A Preliminary Research”. PETUNJUK BAGI PENULIS, 1. Berkala Arkeologi Vol.33 Edisi No. 01/Mei 201.
  • Khamzah, Raden Panji. 1858. Carita Sejarah Lasem.
  • KEMENDIKBUD. 2021. Jejak Perdagangan Rempah dan Budaya Multikultural di Kota Semarang. Dalam https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/jejak- perdagangan-rempah-dan-budaya-multikultural-di-kota-semarang/. diakses pada tanggal 09 Juni 2021.
  • Lapian, Adrian B. Orang Laut Bajak Laut Raja Laut: Sejarah Kawasan Sulawesi Abad XIX. 2009. Jakarta: Komunitas Bambu.
  • Mulyadi, Y. (2016). Kemaritiman, Jalur Rempah dan Warisan Budaya Bahari Nusantara. Talkshow Pekan Budaya Indonesia. dalam https://www.researchgate.net/publication/315681395_Kemaritiman_Jalur_Re mpah_dan_Warisan_Budaya_Bahari_Nusantara. Diakses pada tanggal 7 Juni 2021
  • Noerwidi, S. GLOBALISASI, PELAYARAN-PERDAGANGAN DAN DIVERSITAS POPULASI: STUDI SISA MANUSIA SITUS LERAN, REMBANG, JAWA TENGAH GLOBALIZATION, MARITIME TRADE,
    AND POPULATION. Berkala Arkeologi Vol. 37 Edisi No.2/November 2017.
  • Rush, James R. 2012. Candu Tempo Doeloe. Jakarta: Komunitas Bambu.
  • Pires, Tome. Suma Oriental, terj. Adrian Perkasa dan Anggita Pramesti. Yogyakarta: Ombak, 2016.
  • Pratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta: Ombak.
  • Sadzali, A. M. (2018). EVALUASI KONSERVASI PERAHU KUNO PUNJULHARJO DAN PENGEMBANGAN OBJEK DI MASA DEPAN DALAM PERKUATAN IDENTITAS. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 2(1), 51-66.
  • Setyonugroho, Exsan Ali. (2020). Dasun Jejak Langkah dan Misi Visi Kemajuannya. CV. Lintas Nalar: Yogyakarta.
  • Singgih Tri Sulistiyono, S. PERAN PANTAI UTARA JAWA DALAM JARINGAN PERDAGANGAN REMPAH. Dalam https://core.ac.uk/download/pdf/151236903.pdf. Diakses pada tanggal 07 Juni 2021
  • Siry, Hendra Yusran. 2020. Pengelolaan Pesisir dan Laut dan Pengembangan Jalur Rempah. Dalam https://kkp.go.id/an-component/media/upload-gambar- pendukung/DitJaskel/publikasi-materi- 2/jalur_rempah/Dr.%20Hendra%20Yusran%20Siry.%20S.Pi.%2C%20M.Sc% 20WEB%206.pdf. Diakses pada tanggal 08 Juni 2021.
  • Unjiya, A. 2014. Lasem Negeri Dampoawang. Yogyakarta:Salma Idea
  • Utomo, A. A. P. (2017). Potensi Bahari Lasem Sebagai Sejarah Maritim Lokal. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 11(2), 141-150.