October 27, 2021

Rembang TV

TV nya Orang Rembang

Rampak Osing – Kiai Kanjeng

www.rembangtv.com – KIAI KANJENG , Suku Osing atau suku Using adalah penduduk asli daerah Banyuwangi.  Menurut cerita masyarakat, suku tersebut adalah keturunan Kerajaan Blambangan yang mengasingkan diri pada zaman Majapahit.  Nama Osing yang diberikan oleh penduduk pendatang yang menetap di daerah itu pada abad ke-19.  Suku Osing juga terkenal dengan etnomedismnya, yaitu Mantra dipadukan dengan pijatan, rajah, mempersembahkan jamu dan udara, serta alat tempel.  Waktu yang dibutuhkan dalam pengobatan yang relatif singkat adalah 15-20 menit.  Dalam hal arsitektur, suku Osing jua terkenal dengan prinsip arsitektur osingnya. 
Ragam alat musik mulai dari saron, bonang, kendhang, yang berasal dari kebudayaan Jawa, melebur dengan keyboard, gitar, bass, biola, seruling bambu, dan drum.  Itulah alat musik KiaiKanjeng. 
Musik Rampak Osing secara teknis cukup rumit.  Permainan saron dan bonang dengan teknik imbal – semacam teknik permainan dengan saling mengisi keterkosongan dan dimainkan secara bergantian tidak bersamaan, musik-musik Bali lebih sering menggunakan teknik ini – dikemas dengan pendekatan budaya musik orang Banyuwangi.  Sentuhan seruling bambu di beberapa titik. 
Musik KiaiKanjeng dikenal sebagai berfungsi sebagai media komunikasi sosial, yaitu sebuah musik yang memberikan pelayanan kepada manusia. 
Menurut penuturan Nevi, lagu Rampak Osing adalah lagu yang diciptakan KaiKanjeng.  Namun karena mirip-mirip musik Banyuwangian, akhirnya dikasih judul rampak osing. 
Rampak sendiri artinya adalah laras atau tentang bunyi-bunyian.  Sedangkan Osing artinya tidak.  Rampak Osing juga dikerab diartikan bunyi-bunyian sunyi.
Namun dalam syair Rampak Osing cukup menarik.  Didalamnya memuat sindiran dan kritik terhadap kekuasaan yang semakin menjadi-jadi.  juga disampaikan oleh   Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng dalam  lirik lagu Rampak Osing berikut ini. 
Lirik lagu Rampak Osing ini menggambarkan kondisi bangsa saat ini yang carutmarut dan semakin tidak karuan lagi orang-orangnya.  Sesama pejabat saling mencari
kesalahan pejabat lainnya hanya demi berebut
tahta dan kekuasaan. 
Harta benda dicari semua   orang dengan cara yang berbeda-beda.  Kemerlapnya harta ternyata telah membutakan mata banyak orang dalam mencari nafkah untuk
keluarganya.  Sekarang harta tidak hanya dicari untuk sekedar mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi sudah untuk keperluan pamer
harta. 
Ketika harta sudah membutakan mata,   maka sekarang hanya suara Tuhan sajalah yang
Dapat membuka hati setiap orang agar   sadar akan niatnya yang belum benar. 
OSING RAMPAK
Oleh: Kyai Kanjeng

Lirik
Arep golek opo 
Arep golek opo 
Kok uber – uberan
Podho ngoyak opo 
Podho ngoyak opo 
Kok jegal – jegalan
Kabeh do mendem 
Kabeh do mendem rah mari – mari
Bondo kuwoso rak digowo mati
 
Duh Gusti kang murbeng dumadi
Paduko kang ngasto wewadi
Kawulo nyuwun pandawuhe
Arep golek opo 
Arep golek opo 
Kok uber – uberan
Podo ngoyak opo
Podo ngoyak opo
Kok jegal – jegalan
Kabeh do mendem 
Kabeh do mendem rah mari – mari
Bondo kuwoso rah di gowo mati.
Kabeh do mlaku mrono bali mrene
Ra ngerti parane
Kabeh do mbengok maido kancane,
Ra mudeng maknane
Arep golek opo 
Arep golek opo 
Kok uber – uberan
Podo ngoyak opo
Podo ngoyak opo
Kok jegal – jegalan
Kabeh do mendem 
Kabeh do mendem rah mari – mari
Bondo kuwoso rah di gowo mati.
Sumber: 
  • KIAI KANJENG ||  RAMPAK OSING FULL HD dalam  https://youtu.be/iIBP_iZkvKM
  • https://surabaya.liputan6.com/read/4082615/5-tradisi-unik-suku-osing-banyuwangi-yang-masih-dilestarikan
  • https://www.kabarbanyuwangi.info/banyuwangi-festival-mainkan-lagu-rampak-osing.html
  • https://www.caknun.com/2017/bunyi-bunyi-sunyi/
  • Insani, NH (2019).  KONSTRUKSI BUDAYA DAKWAH EMHA AINUN NADJIB DALAM ACARA MOCOPAT SYAFAAT SEBAGAI MEDIUM RESISTENSI.  Diksi, 27 (2), 87-101.
  • Luthviatin, N. (2015).  Mantra untuk Penyembuhan dalam Tradisi Suku Osing Banyuwangi.  IKESMA, 11 (1).
  • Praditya, P. (2014).  Fasilitas kebudayaan Suku Osing di Banyuwangi.  eDimensi Arsitektur Petra, 2 (2), 32-39.